*SUKOHARJO —* Sebanyak 53 mahasiswa Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat dan Ilmu Kesehatan (FKMIK) Universitas Veteran Bangun Nusantara (Univet Bantara) Sukoharjo turun langsung ke tujuh desa di Kecamatan Bendosari, Kabupaten Sukoharjo, untuk melakukan intervensi pencegahan dan penanggulangan tuberculosis (TBC).

Para mahasiswa tersebut resmi diterjunkan dalam kegiatan Praktik Belajar Lapangan (PBL) 2 di Aula Puskesmas Bendosari, Kamis (1/10/2026). Selama satu bulan, hingga 31 Oktober 2026, mereka akan berkolaborasi dengan Puskesmas Bendosari, bidan desa, pemerintah desa, dan masyarakat untuk mengidentifikasi permasalahan TBC sekaligus merancang dan melaksanakan intervensi kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Kegiatan ini mengangkat tema *“Intervensi Pencegahan TBC di Puskesmas Bendosari Kabupaten Sukoharjo.”*

PBL 2 merupakan kelanjutan dari PBL 1 yang telah dilakukan mahasiswa pada semester sebelumnya. Jika pada tahap sebelumnya mahasiswa membangun pemahaman terhadap kondisi dan permasalahan masyarakat, pada PBL 2 mahasiswa diarahkan untuk masuk pada tahap *pemecahan masalah melalui perencanaan, implementasi intervensi, dan evaluasi.*

Bukan Sekadar Praktik, Mahasiswa Dituntut Hasilkan Intervensi

Kaprodi Kesehatan Masyarakat FKMIK Univet Bantara, *Nur Ani, S.KM., M.KKK*, mengatakan PBL 2 dirancang agar mahasiswa tidak berhenti pada proses identifikasi masalah, tetapi mampu menerapkan kompetensi kesehatan masyarakat untuk menghasilkan intervensi yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.

“PBL 2 ini merupakan kelanjutan dari PBL 1 yang telah dilaksanakan pada semester sebelumnya. Mahasiswa akan melakukan analisis situasi, menyusun perencanaan, melaksanakan intervensi, dan mengevaluasi kegiatan yang dilakukan,” ujarnya.

Menurutnya, kegiatan lapangan tersebut juga menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran mahasiswa untuk menghubungkan teori yang diperoleh di bangku kuliah dengan persoalan kesehatan yang benar-benar dihadapi masyarakat.

Tidak hanya menghasilkan laporan akhir, mahasiswa juga diwajibkan menghasilkan sejumlah luaran sebagai bentuk diseminasi hasil kegiatan, yakni *press release, artikel ilmiah, dan video*.

“Harapannya, hasil PBL 2 tidak hanya menjadi dokumen akademik, tetapi juga dapat memberikan informasi dan pembelajaran bagi masyarakat serta pihak-pihak yang berkepentingan,” katanya.

53 Mahasiswa Dibagi di 7 Desa

Dalam pelaksanaannya, 53 mahasiswa dibagi menjadi tujuh kelompok dan ditempatkan di *Desa Mojorejo, Sugihan, Cabeyan, Sidorejo, Gentan, Mertan, dan Toriyo*.

Masing-masing kelompok akan mendapatkan pendampingan dari bidan desa selama menjalankan kegiatan di wilayahnya.

Dekan FKMIK Univet Bantara, *Prita Devy Igiany, S.Kep., M.P.H.*, mengatakan kampus menitipkan mahasiswa kepada Puskesmas Bendosari, pemerintah desa, dan masyarakat agar selama kegiatan mahasiswa mendapatkan pengalaman belajar sekaligus bimbingan yang memadai.

“Pihak kampus menitipkan mahasiswa untuk dapat belajar dan mengaplikasikan teori yang telah didapatkan selama di bangku perkuliahan. Kami mohon bimbingannya dari pembimbing akademik dan pembimbing lapangan dalam pelaksanaannya,” ujarnya.

Prita juga menyampaikan apresiasi kepada Puskesmas Bendosari dan seluruh pihak yang terlibat dalam pelaksanaan PBL 2.

“Secara resmi pada hari ini kami menyerahkan sebanyak 53 mahasiswa Prodi Kesehatan Masyarakat kepada Puskesmas Bendosari untuk melaksanakan PBL 2. Semoga kegiatan ini bisa memberikan manfaat dan berdampak bagi wilayah Kecamatan Bendosari,” katanya.

Dinkes Sukoharjo: TBC Masih Jadi Persoalan yang Perlu Diperkuat

Dukungan terhadap pelaksanaan PBL 2 juga datang dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sukoharjo.

Dinkes Sukoharjo dalam kegiatan tersebut diwakili *dr. Aprilia Theresa*, selaku Plt. Kepala Bidang Mutu Tenaga Kesehatan dan Fasilitas Pelayanan Kesehatan.

Ia menyambut positif fokus mahasiswa pada intervensi TBC. Menurutnya, kegiatan mahasiswa di lapangan dapat menjadi ruang untuk melihat pelaksanaan program kesehatan sekaligus memberikan perspektif tambahan dari lingkungan akademik.

“Terkait tema intervensi TBC, Dinkes menyambut dengan sangat baik karena TBC masih menjadi permasalahan di Dinkes Sukoharjo,” ujarnya.

Ia menambahkan, Dinkes Sukoharjo terbuka terhadap mahasiswa yang ingin melakukan praktik maupun penelitian di wilayah Kabupaten Sukoharjo.

Kehadiran mahasiswa, lanjutnya, dapat memberikan masukan dan menjadi salah satu bentuk evaluasi terhadap program yang telah berjalan.

“Kami senang jika ada mahasiswa yang praktik atau penelitian di wilayah Sukoharjo karena dapat menjadi evaluasi dari luar terkait program yang telah dilaksanakan,” katanya.

Dinkes juga berharap hasil kegiatan PBL 2 dapat disampaikan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Sukoharjo, khususnya hasil yang berkaitan dengan program penanggulangan TBC.

“Jika ada ilmu-ilmu baru dalam penemuan atau penanggulangan TBC yang dapat diimplementasikan di wilayah Sukoharjo, tentu akan sangat bermanfaat. Hasil kegiatan PBL 2 ini bisa dikirimkan juga kepada Dinkes Sukoharjo untuk bahan evaluasi, khususnya terkait TBC,” jelasnya.

Puskesmas Bendosari Siap Dampingi Mahasiswa

Kepala Puskesmas Bendosari, yang diwakili *dr. Nadjib Rendra Mukti*, menyambut kedatangan mahasiswa dan menegaskan kesiapan puskesmas untuk mendukung pelaksanaan kegiatan.

“Selamat datang di Puskesmas Bendosari untuk melaksanakan kegiatan PBL 2, lanjutan dari PBL 1. Mohon kepada bidan desa dapat mendampingi kembali kegiatan mahasiswa selama di desa masing-masing,” ujarnya.

Puskesmas Bendosari secara resmi menerima 53 mahasiswa Program Studi Kesehatan Masyarakat FKMIK Univet Bantara untuk melaksanakan PBL 2 selama satu bulan.

Pendampingan bidan desa menjadi salah satu bagian penting dalam kegiatan karena mahasiswa akan berhadapan langsung dengan kondisi masyarakat dan membutuhkan koordinasi dengan tenaga kesehatan serta pemangku kepentingan setempat.

Tiga Hari Digembleng Sebelum Turun ke Masyarakat

Sebelum diterjunkan ke tujuh desa, mahasiswa terlebih dahulu menjalani pembekalan selama tiga hari, 28–30 September 2026.

Pada hari pertama, *Wartini, S.KM., M.Sc., memberikan materi mengenai sistematika penulisan laporan akhir PBL 2, etika lapangan, serta alur pembimbingan dan monitoring evaluasi. Materi metode dan strategi promosi kesehatan disampaikan **Farid Setyo Nugroho, S.KM., M.Kes.*

Hari kedua diisi *Fiqi Nurbaya, S.KM., M.Kes.*, dengan materi analisis stakeholder, advokasi, teknik fasilitasi Musyawarah Masyarakat Desa (MMD), penyusunan instrumen evaluasi intervensi, indikator keberhasilan, serta teknik analisis efektivitas.

Sementara pada hari ketiga, mahasiswa mendapatkan pembekalan langsung dari *dr. Nilam Hesty* dari Puskesmas Bendosari mengenai penanggulangan TBC di institusi pelayanan kesehatan, implementasi program TBC, serta pencegahan dan pengendalian infeksi.

Pembekalan tersebut menjadi modal mahasiswa sebelum melakukan intervensi di masyarakat, sehingga kegiatan tidak hanya berorientasi pada pelaksanaan program, tetapi juga memperhatikan proses perencanaan, pengukuran keberhasilan, dan evaluasi.

Dari Kampus ke Masyarakat, dari Teori Menjadi Aksi

Pelaksanaan PBL 2 di Bendosari menjadi bagian dari upaya FKMIK Univet Bantara memperkuat pembelajaran berbasis pengalaman lapangan. Mahasiswa tidak hanya mempelajari konsep kesehatan masyarakat di ruang kelas, tetapi dituntut mampu menerapkannya ketika menghadapi persoalan kesehatan yang nyata.

Selama satu bulan, mahasiswa akan melakukan *analisis situasi umum di masyarakat, menyusun perencanaan kegiatan, melaksanakan intervensi, dan mengevaluasi efektivitas intervensi* terkait pencegahan TBC.

Sebanyak 53 mahasiswa, tujuh desa, Puskesmas Bendosari, bidan desa, pemerintah desa, masyarakat, serta Dinas Kesehatan Kabupaten Sukoharjo menjadi bagian dari proses kolaborasi tersebut.

Dengan pendekatan tersebut, PBL 2 diharapkan tidak hanya menjadi agenda akademik tahunan, tetapi juga menghasilkan pembelajaran, dokumentasi, dan rekomendasi yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung upaya pencegahan dan penanggulangan TBC di wilayah Kecamatan Bendosari dan Kabupaten Sukoharjo.

*PBL 2 FKMIK Univet Bantara dilaksanakan pada 1–31 Oktober 2026 dengan fokus intervensi pencegahan TBC di tujuh desa wilayah kerja Puskesmas Bendosari.*

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *